Monday, July 1, 2013

Graphic Designer? Visual Communication? Creative Designer? What is it?

Banyak orang (khususnya di Indonesia) yang tidak mengerti dengan profesi yang satu ini. banyak yang mengira Profesi satu ini adalah tukang sulap, penghasil keajaiban ataupun banyak yang meremehkan hanya sebagai 'tukang gambar' jadi sebenernya Profesi ini apa sih ya? Kenapa butuh profesi satu ini?

Tanpa membuka fakta ataupun artikel apapun, saya berusaha menulis ini secara subjektif sahaja. Ingat, ini hanyalah pendapat saya secara pribadi melalui segala macam pengalaman saya di dunia aneh ini. Kenapa Aneh saya bilang? Karena ini dunia tanpa benda yang konkrit, anda hanya menjual sebuah bentuk abstrak yang dinamakan konsep. Konsep itu perlu sense of art. Saya memulai karir saya sejak saya mengenal dua aplikasi hebat yang bernama Adobe Photoshop dan Corel Draw, tentu saja saya mengenal komputer sebelumnya, tetapi kedua aplikasi ini cukup hebat dikarenakan mampu menerjemahkan visualisasi saya ke dalam dunia digital. Waktu itu yang bekerja hanyalah sense of art, banyak karya yang saya ciptakan hanya menggunakan daya konseptual saya yang penuh imajiner yang kita definisikan dengan seni. Lama kelamaan saya mengenal yang namanya fungsional dan efisiensi, keduanya dikombinasikan menjadi satu sinergi utuh menjadi karya graphic design yang fungsional dan efisiens sesuai dengan target customer. Saya semakin tertarik menjadikannya sebuah mata pencaharian. Tidak hanya harus berseni kata saya, tapi seni yang dimaksud setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang memilih untuk clearly dan simple, ada yang saya rasa gak mau rugi kalo saya cuma bikin 1 tulisan dgn background polos, maunya full colour dengan effect 100, sakit di mata saya tapi saya mencoba mentranslatekan apa yang dia mau, kalo hasilnya jelek ya mohon maaf saja saya tidak menjadi designernya, tapi hanya sebagai drawernya. Lho apa beda itu?

As Designer kita harus membentuk konsep yang kuat sesuai dengan kebutuhan customer, kita harus mengerti apa customer kita mau dan mencoba mevisualisasikannya, sedangkan drawer adalah tukang gambar contohnya "saya mau bikin design untuk billboard, warna ini, foto ini, tulisan ini, komposisi begini ajah jangan begitu, lalu kontak semua di sini, fotony begini begini lalu bla bla  bla..." saya pokoknya kayak lagi di briefinb polisi mau menghadapi teroris. Sudah jelas kan bedanya? Sekarang saya sebagai apa di kantor ini, untungnya saya sebagai Designer karena memberikan konsep dan diberikan keleluasaan untuk berkarya. Awalnya saya marah, saya merasa sudah cukup kompeten untuk bekerja, kenapa masih diatur begini begono. Apalagi kalo udah melanggar beberapa norma design saya. Tapi lama-lama saya belajar untuk humble, lebih lunak menerima dan menaruh pengertian walau kadang memang keki juga.

Apa di Indonesia sudah cukup menjanjikan profesi ini? Absolutely, karena masih banyak kita yang buta design, essensialnya masih kurang, karena ini tergantung selera dan komunikasi. Tantangan saya sebagai freelance waktu itu jauh lebih berat ketimbang inhouse designer, karena saya harus belajar sebagai negosiator, price man, marketing, designing dalam satu paket. Saya agak susah di masalah pricing, oleh karena itu saya memang masih agak harus banyak belajar lagi. Sebagai Inhouse Designer kita hanya harus mengerti produk dan keinginan marketing ataupun atasan kita. Design gak hanya tentang seni melukis digital yang dielu-elu kan, design adalah seni memanipulasi pemikiran dan ini sinergi yang kuat antara komunikasi, psikologis dan seni digital itu sendiri.

Terima kasih kalo kamu udah baca artikel ini, semoga kamu mengerti kenapa designing gak segampang tukang sulap? Kenapa design itu mahal? Kenapa kenapa dan kenapa.


aw.

#quote : Good Design is a Good Business - unknown