Friday, August 9, 2013

[Coffee Story] Djournal Coffee

"A Balance life is a Cup of Coffee in one hand with a Pastry in Another"

Is it True..?

Bagi saya pecinta kopi, mungkin hampir balance ya, karena saya lebih seneng menikmati kopi dengan french fries, LOL. Quote di atas saya dapatkan di sebuah coffee shop yang cukup fresh di ibukota, namanya Djournal Coffee. Kebetulan saya mencobanya hari ini karena ingin mencari udara segar sendirian.

Good Place with a Great Coffee

Bisa saya simpulkan seperti itulah Djournal Coffee yang saya coba ini. Dengan ambience yang unik, cocok buat siapa ajah yang pengen nongkrong bareng temen ataupun sama keluarga, cuman minusnya lagu yang diputer terlalu kenceng, jadi buat yang mau ngobrol agak keganggu. Another minus lagi colokan yang sulit ditemui jadi agak susah bagi yang pengen sambil mengerjakan sesuatu dengan laptop, karena titik colokan hanya di sudut tertentu.

How about the heart of this things, yaitu coffee nya? Saya memesan Hot Mocha (kesukaan saya tentu nya) dan rasanya cukup passs dengan saya, paduan choco dan coffee nya pas. Kalau boleh saya bandingkan dengan Starbucks atau Coffeebean, Djournal pun gak kalah dengan franchise multinasional tersebut. Pendamping saya kali ini adalah French Fries, dan saya memesan Truffle Fries dengan rasa yang unik. Ada bau-bau jamur yang kalo gak biasa mungkin agak aneh yah, tapi bagi saya ini unik sekali. Cukup gembira lah saya memesan kedua ini di Djournal.

Saya rasa Djournal serius sekali dalam urusan kopi nya. Mereka menyediakan Hand Brewed Coffee dengan 3 type pnyeduhan ada yang di Pour Over, Syphon, dan ini nih yg bikin saya penasaran Cold Drip, karena alatnya seperti jam pasir bentuknya haha.

Overall, saya bisa mengatakan bakal kembali lagi ke Djournal Coffee, andaikan lokasinya tidak di Mall. Tidak kalah pasti dengan franchise luar tersebut.

Ahh, Note udah lowbatt saya kembali melanjutkan me time ini. Ciao!

AW

Live blog from :
@DjournalCoffee , SMS

Coffee can be an Inspiration

Ketika menonton acara The Apprentice Asia yang saya sangat sukai itu, ada satu episode ketika para kontestan disuruh memasarkan produk dari Nescafe Dolce Gusto, tagline nya bikin saya bergidik.

COFFEE CAN BE A....

Yang mau saya bahas bukanlah tentang acara itu, namun tentang tagline produk kopi tersebut. Bagi saya yang terlahir dari keluarga pecinta kopi sejati, kopi bisa menjadi apa yah? Saya berpikir cukup lama. Kopi bisa menjadi apa bagi saya? Saya mengenal kopi ketika masih sekolah dasar. Setiap pagi saya menolak untuk minum susu putih, mau itu susu kental manis apalagi susu full krim. Kakek saya kasih susu kopi, bukan kopi susu. Jadi banyakan susu daripada kopi. Dari situ napak tilas saya mengenal kopi.

COFFEE CAN BE AN INSPIRATION

Bagi saya sekarang, kopi merupakan bentuk penyemangat saya di pagi hari. Secangkir white coffee favorite saya selalu menyambut di pagi hari sebelum saya pergi bekerja. Saya selalu menyempatkan untuk menikmati sarapan di rumah setiap harinya. Coffee can be an inspiration, inspirasi untuk berkarya setiap harinya (kebetulan pekerjaan saya di bidang yang membutuhkan inspirasi yang luar biasa setiap harinya) gak selalu ketika saya mandek, saya minum kopi. Banyak cara saya untuk mendapatkan ide-ide baru ketika bekerja. Escaping saya juga selalu berhubungan dengan kopi. Harum biji kopi yangterbakar juga membuat saya semakin terbangun. Entah mengapa, ini hal yang subjektif sekali. 

Saya bersyukur dapat mengenal jenis minuman yang sangat melegenda dan mendunia, setiap negara punya kopi khas nya masing-masing. Dan saya akan selalu berbahagi karena kemanapun saya melangkah tetap bisa menjumpai minuman ini. So, whot Bout you?


AW

Monday, August 5, 2013

Job, Career and Passion

Saya kaget ketika melihat judul buku ini di salah satu toko buku terkemuka di Medan, tertulis sangat gamblang dengan sepaket mendapat 2 buku langsung :

"Your Job is NOT Your Career"

What are your talking bout? Career itu setau saya yah menyangjut tentang job atau pekerjaan itu. Setelah saya baca buku pertama atau buku utama nya, akhirnya kalimat ini semakin dilengkapkan menjadi "Your Job is not your Career, Career is You... Everybody can take your job, but not your career" kalimat ini semakin menggampar saya begitu juga dengan isi buku ini. Saya semakin sadar saya kehilangan arah dari 'Passion' saya ini apa.

Selama ini saya merasa memang sudah 'gerah' berada di posisi seperti ini. Memang sih enak, datang sesuka hati, izin tinggal BBM, aturan longgar, tapi saya gak terlena begitu ajah terhadap semua ini, saya sadar ini kayak bom waktu yang tinggal tunggu ajah kapan meledaknya. Ini juga sebagai 'ujian iman' bagi saya, apakah nyaman di suasana yang seperti ini. But, sorry it's not my way to enjoy my life, apalagi masih muda begini, mendingan saya jungkir balik, dapet job bertubi-tubi tapi yang jelas dan tetap memiliki manfaat besar untuk saya dan jangan lupa yang terakhir adalah mendewasakan saya dalam karier saya.

Setelah membaca baru saya sadar, saya belum menemukan passion yang tepat selama ini, dan akhirnya saya berpikir passion terbesar saya adalah 'Sharing Happiness to Everyone' saya senang membantu, melihat orang senang karena suprise saya, melihat karya saya berguna, menghibur orang, bermanfaat bagi orang banyak. Sharing Happiness bukan berarti saya menjadi santa klaus, cuman saya berusaha menjadi figur yang bisa diandalkan di segala medan.

Bagaimana saya  merealisasikan passion saya ini? I just surrender to God, karena Dia tahu dan Di maha tahu segalanya yang terbaik untuk saya dan saya yakin posisi saya tetap berusaha membagi ilmu maupun kebaikan untuk sesama.

So, what's your passion?
Dream and Do it

AW

Monday, July 1, 2013

Graphic Designer? Visual Communication? Creative Designer? What is it?

Banyak orang (khususnya di Indonesia) yang tidak mengerti dengan profesi yang satu ini. banyak yang mengira Profesi satu ini adalah tukang sulap, penghasil keajaiban ataupun banyak yang meremehkan hanya sebagai 'tukang gambar' jadi sebenernya Profesi ini apa sih ya? Kenapa butuh profesi satu ini?

Tanpa membuka fakta ataupun artikel apapun, saya berusaha menulis ini secara subjektif sahaja. Ingat, ini hanyalah pendapat saya secara pribadi melalui segala macam pengalaman saya di dunia aneh ini. Kenapa Aneh saya bilang? Karena ini dunia tanpa benda yang konkrit, anda hanya menjual sebuah bentuk abstrak yang dinamakan konsep. Konsep itu perlu sense of art. Saya memulai karir saya sejak saya mengenal dua aplikasi hebat yang bernama Adobe Photoshop dan Corel Draw, tentu saja saya mengenal komputer sebelumnya, tetapi kedua aplikasi ini cukup hebat dikarenakan mampu menerjemahkan visualisasi saya ke dalam dunia digital. Waktu itu yang bekerja hanyalah sense of art, banyak karya yang saya ciptakan hanya menggunakan daya konseptual saya yang penuh imajiner yang kita definisikan dengan seni. Lama kelamaan saya mengenal yang namanya fungsional dan efisiensi, keduanya dikombinasikan menjadi satu sinergi utuh menjadi karya graphic design yang fungsional dan efisiens sesuai dengan target customer. Saya semakin tertarik menjadikannya sebuah mata pencaharian. Tidak hanya harus berseni kata saya, tapi seni yang dimaksud setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang memilih untuk clearly dan simple, ada yang saya rasa gak mau rugi kalo saya cuma bikin 1 tulisan dgn background polos, maunya full colour dengan effect 100, sakit di mata saya tapi saya mencoba mentranslatekan apa yang dia mau, kalo hasilnya jelek ya mohon maaf saja saya tidak menjadi designernya, tapi hanya sebagai drawernya. Lho apa beda itu?

As Designer kita harus membentuk konsep yang kuat sesuai dengan kebutuhan customer, kita harus mengerti apa customer kita mau dan mencoba mevisualisasikannya, sedangkan drawer adalah tukang gambar contohnya "saya mau bikin design untuk billboard, warna ini, foto ini, tulisan ini, komposisi begini ajah jangan begitu, lalu kontak semua di sini, fotony begini begini lalu bla bla  bla..." saya pokoknya kayak lagi di briefinb polisi mau menghadapi teroris. Sudah jelas kan bedanya? Sekarang saya sebagai apa di kantor ini, untungnya saya sebagai Designer karena memberikan konsep dan diberikan keleluasaan untuk berkarya. Awalnya saya marah, saya merasa sudah cukup kompeten untuk bekerja, kenapa masih diatur begini begono. Apalagi kalo udah melanggar beberapa norma design saya. Tapi lama-lama saya belajar untuk humble, lebih lunak menerima dan menaruh pengertian walau kadang memang keki juga.

Apa di Indonesia sudah cukup menjanjikan profesi ini? Absolutely, karena masih banyak kita yang buta design, essensialnya masih kurang, karena ini tergantung selera dan komunikasi. Tantangan saya sebagai freelance waktu itu jauh lebih berat ketimbang inhouse designer, karena saya harus belajar sebagai negosiator, price man, marketing, designing dalam satu paket. Saya agak susah di masalah pricing, oleh karena itu saya memang masih agak harus banyak belajar lagi. Sebagai Inhouse Designer kita hanya harus mengerti produk dan keinginan marketing ataupun atasan kita. Design gak hanya tentang seni melukis digital yang dielu-elu kan, design adalah seni memanipulasi pemikiran dan ini sinergi yang kuat antara komunikasi, psikologis dan seni digital itu sendiri.

Terima kasih kalo kamu udah baca artikel ini, semoga kamu mengerti kenapa designing gak segampang tukang sulap? Kenapa design itu mahal? Kenapa kenapa dan kenapa.


aw.

#quote : Good Design is a Good Business - unknown


Saturday, June 29, 2013

Perpektif saya tentang 'Bos' (Part 2)

Episode yang lalu kita udah membahas tentang bos yang 'perfeksionisme'-nya mengalahkan Tuhan (oke itu Lebay) Cerita pun berlanjut ketika base kerjaan saya berpindah ke Cafe yang berbeda walau masih satu group. 

The Calculator 
Saya benci sekali Akuntansi karena penuh perhitungan dan kalkulasi, namun sebagai 'calon pengusaha' (Aminkan sodara-sodara) saya harus terbiasa dengan kalkulasi apalagi yang menyangkut beban biaya, biaya, biaya dan biaya agar menghasilkan namanya 'profit' atau keuntungan. Yes, saya mesti berteman baik dengan semua laporan angka itu. But, the other side saya ikut belajar dengan melihat another bos saya ini yang kebetulan dia adalah akuntan dan mengatur seluruh finance di perusahaan itu. 

personality, he has a Charisma. yes, dia karisma-nya kuat sekali, stay cool, berbicara seperlunya dan membentuk sebuah komunikasi yang 'efektif' antara staff dan dirinya sebagai atasan. Karakter dan cara dia mendekatkan dirinya namun tetap memberikan sebuah batasan antara atasan dan staff. contoh ketika melewati masa probation, dia menanyakan 'bagaimana selama bekerja di sini? ada kendala apa? bagaimana pekerjaanmu? apa yang sulit?' sebagai motivasi, dia lulus 100% menurut saya. bagaimana pun ketika masa-masa seperti itu kamu bisa menjelaskan bagaimana pekerjaanmu dengannya dan situasinya dibuat sesantai mungkin agar kamu bisa berbicara sejelas-jelasnya. saya hanya menganalisa dari apa yang rekan saya alami karena ia memiliki komunikasi kerja dengannya di bidang operasional. Good personality touch. 

But, sebagai akuntan yang baik dia mengharapkan laporan yang detailnya mungkin tingkat 'sempurna' juga, saya kurang jelas bagaimana komunikasi kerja dengannya sebagai staff yang menulis laporan keuangan, saya cuma bisa menggambarkan bagaimana repotnya mereka yang tidak terbiasa melihat segepok laporan penuh angka ketika meeting bulanan. It's sick! kadang, karena terlalu telitinya beliau. hingga 1 helai bulu pun tidak boleh hilang dari pencatatannya dia. oleh karena itu, kadang bagian operasional terutama pencatatan keuangan dan kroni-kroni nya bakal ketumpahan tugas baru ketika 1 kasus terjadi. misalnya saja, 'kenapa baterai cepet habis?' akibatnya 'baterai ikut diinventori setiap minggu, dan ada 26 ruangan dengan rata-rata ada 2 microphone dengan 2 baterai belum lagi dengan remote AC dan semua diinventori dengan jenis yang ada' ketika mendengar teman saya berkata seperti itu, saya cuma komen 'Oh My God' dan pekerjaan akan bertambah lagi kalo ada yang 'missed'

The Understanding (Too Much)
Selain itu saya juga punya 1 bos lagi yang PALING, paling friendly dan paling understanding di kumpeni ini. kebetulan dia ada berjiwa seni (dikit) dan memegang operasional. dia paling mudah dicari, paling mudah diajak berdebat, paling easy going dan paling mudah diajak bercanda. staff jadi dekat dengannya sehingga komunikasi kerja jadi lebih mudah dengannya.

Namun, bahaya nya, terlalu easy going ini menjadi perkara serius ketika 'take decision' pemikirannya terlalu rendah, tidak visioner, tidak punya planning yang oke, kadang decision yang dia berikan tidak terlalu jelas arahnya dan lebih pasif jadinya ketika dalam komunikasi kerja. pasif yang saya maksud bukannya dia diam, namun segala planing dan decision yang dia berikan cenderung bertolak belakang dengan apa yang dipikirkan oleh staffnya. misalnya ketika ada pertengkaran diantara 2 (atau beberapa staff) dia cenderung tidak mendengar banyak, namun menelaah / memblending masalahnya dan melihatnya dari sisi lain, pemaaf tapi tidak menyelesaikan masalah bagi saya. dia cenderung pemikir yang tidak semestinya, terlalu mengerti dan terlalu pengertian sehingga tidak melakukan keputusan yang tepat sehingga kejadian yang tidak diduga & diharapkan bisa terjadi kedua kalinya. 

Memang kedekatannya dengan karyawan menjadikan komunikasi kerja cenderung mudah, mencari solusi dengannya itu mudah sekali dan kadang pun tidak terlalu tegang sehingga kita bisa berbicara & berpendapat apa adanya kita. positifnya memang dia mengerti dan memberikan pemikiran yang berbeda dengan cara pandang lain, namun terkadang terlambat.

---

Pengalaman saya selama 1 tahun di perusahaan itu harus berhenti karena saya pindah kota. pengamatan saya terhadap atasan saya tidak berhenti, bahkan di sini (di kota baru ini) selama 9 bulan saya bekerja banyaak sekali pelajaran yang saya petik. semoga bisa saya rangkumkan dengan jelas di sini, karena pengalaman ini sungguh sangat berharga untuk membentuk sifat kepemimpinan saya yang tepat di waktunya nanti.

(AW)

Monday, June 17, 2013

Morning note

Apa sih rutinitas kamu ketika bangun tidur?

kalo saya yang menurut saya paling menyenangkan adalah : memasak

ya, setiap pagi saya sisihkan waktu 30menit untuk memasak sarapan & makan siang,

sambil itu saya membuka pintu depan dan melihat hari yang cerah dengan angin yang sepoi2 masuk ke dalam rumah,

ahhhh... it's a Good Day

pagi hari merupakan waktu terpendek yang saya pikir, banyak orang memilih untuk berleha-leha ketika hari liburnya, tidur hingga melewati waktu yang paling indah & paling produktif selama 24 jam.

banyak inspirasi saya tercipta di pagi hari, dan jujur saja waktu bekerja saya yang paling produktif adalah ketika jam 9 pagi hingga waktu makan siang, ketika saya ter"ganggu" oleh perut saya yang lapar di waktu siang, ketika itu saya merasa produktivitas saya menurun.

so, don't miss this beautiful moment, bangun pagi donk, masak kek, berkebun kek, jogging kek, terserah bagaimana merasakannya, tapi kamu bakal tau apa manfaatnya.

ciao!(AW)

Pendidikan, buat apa yah?

berpikir menulis tentang ini karena lagi heboh2nya mau test perguruan tinggi negeri, karena pengalaman yang lalu pernah ikutan heboh2in penerimaan SPMB.

timbul pertanyaan sampe 4 pilihan jurusan dan universitas yang diinginkan, waktu itu anehnya pilih Kedokteran dan Manajemen di 2 universitas. Saya gak lolos di SPMB tersebut dan mengurungkan niat untuk mengikuti SNMPT karena untuk universitas yang saya mau gak ada. Saya apakah memang tidak mampu di sana? menurut saya tidak, saya bukannya tidak mampu tapi saya tidak memperjuangkannya.

target saya cukup tinggi demand-nya, persaingan ketat, dan kurangnya persiapan. menurut saya tiga kombinasi alasan yang cukup menjawab kenapa saya tidak lolos dalam SPMB itu, namun nyeletuk lah ucapan dari teman-teman saya "kenapa gak ambil jurusan B, jurusan C, jurusan D ajah yang sepi peminat?" saya pun bingung, kenapa harus menghindari persaingan? kedua, kenapa harus di jurusan yang gak kamu kenali sama sekali?, ketiga bagaimana bisa kamu kuliah di jurusan yang gak tau nantinya kamu bakal jadi apa? jawaban dari ketiga jawaban itu sama "DEMI BISA KULIAH DI UNIVERSITAS FAVORITE.. PASANG DI PROFIL FB, JADI BAHAN BANGGAAN ORANG TUA SAMA TETANGGA & SODARA, JADI BAHAN GENGSI2AN, padahal dia gak tau kuliahnya tentang apa dan nanti bakal jadi apa.

ini kan miris sekali sodara-sodara, kalo hatinya di arkeologi, kenapa gak kuliah di arkeologi ajah? nanti ada jawabannya "kan bukan fakultas favorit?" lah yang penting kan masa depannya jelas dan suka di bidangnya. ya walaupun di Indonesia misalnya arkeologi tidak terkenal, bukan berarti indonesia tidak butuh, malah saya rasa Indonesia butuh sekali SDM di bidang ini dikarenakan Indonesia kaya akan Sejarah yang masih belum terbentuk sempurna. that's one of million example.

Bagi saya, apapun itu kalo memang dilakukan 100% dan memang bermanfaat bagi kehidupan orang banyak, Tuhan gak akan tinggal diam, hanya sedikit ditambah perjuangan saja di dalamnya. lagipula bukankah lebih baik kita berjalan di jalan yang benar walaupun sendiri daripada ramai-ramai tapi pada salah jalan. miris sekali, kenapa suka terjun ke jurang ramai-ramai?

so, menjawab sekali lagi pertanyaan di atas, Pendidikan buat apa? Tujuan akhir kita sekolah itu apa? menurut saya yah, Berkarya. Mau itu bekerja, buka usaha, nulis lagu, melukis, cipta patung, bukankah semua itu hasil karya yang butuh 'pendidikan' ? ketika sudah bisa berkarya baru bisa menjawab pertanyaan 'Berguna kah karya mu bagi lingkungan mu?' ketika terjawab sudah jawaban nomer dua itu, mari jawab yang terakhir 'Sampai sejauh mana karya mu menggaungkan bumi mu?' ketika 3 pertanyaan itu terjawab, maka saya pikir saya sudah sampai di titik namanya 'kesuksesan'

mari kita renungkan apa sebenarnya defenisi & tujuan dari pendidikan?(AW)